Nasehat Imam Syafi'i Untuk Suami, Jika Istri Seorang Muslim Ingin Cantik


Assalamu’alaikum pembaca muslimcirebon.com. Semoga ketika membaca postingan ini kita semua dalam kondisi sehat ruhani dan jasmani. Jika dalam kondisi yang kurang baik, semoga Allah mengabulkan doa, dan kembali menjadikan kita sehat ruhani dan jasmani. 

Langsung pada inti posingan ini, kami ucapkan selamat membaca. Semoga bermanfaat



ISTRIMU AKAN CANTIK, BILA KAMU MEMANDANGNYA DENGAN KASIH SAYANG

Suatu hari Imam Syafi'i ra. kedatangan seorang Laki-laki, Suami. Dia mengadu kepada Imam Syafi'i perihal istrinya yang sudah tak cantik, tak Menggairahkan lagi dipandangnya.

Suami: "Wanita yg aku nikahi itu pertama kali cantik dan menggairahkan. Tapi kenapa sekarang kecantikannya hilang, tidak menggairahkan ?"

Mendengar hal itu, Imam Syafi'i dg tersenyum berkata: "Kamu ingin istrimu kembali lagi cantik, Menggairahkan ?"

Suami: "Betul"

Imam syafi'i: "Gampang.. tundukan pandanganmu dari seluruh wanita yg diharamkan selama sebulan !"

Setelah mendengar nasihat tersebut, ia segera mematuhi apa yang disampaikan Imam Syafi'i.

Sebulan kemudian Laki-laki tersebut bertemu kembali dg Sang Imam.

Imam syafi'i pun bertanya: "Bagaimana sekarang ? Istrimu sudah kelihatan cantik ?"

Suami: "Maa syaa Allah wahai imam, sungguh tak ada wanita cantik, menggairahkan selain istriku."

Imam syafi'i pun berkata dari kenyataan itu:
"Sebenarnya istrimu tidak berubah. Namun ketika kamu menjadi laki-laki yg sering melabuhkan atau mendaratkan pandangannya kepada wanita-wanita yg tidak halal. Ketika itu, Allah mencabut kenikmatan pandanganmu melihat yang halal.
Ketika Allah mencabut kepadamu kenikmatan melihat yang halal itulah kenapa kamu melihat istrimu menjadi biasa."

"Akan tetapi ketika kamu meninggalkan pandangan yg haram. Lalu akhirnya kamu kemudian hanya menikmati pada pandangan yang halal (istrimu), di situlah kamu akan mendapati kenikmatan istrimu kembali."

Dari kisah ini dapat dianbil hikmah MAKSIAT MENGGEROGGOTI NIKMAT DAN INDAHNYA RASA IBADAH

Sumber: facebook.com/AlhabibQuraisyBaharun

Selesai untuk postingan ini. Terima kasih sudah membacanya. Semoga Allah SWT memberikan anugerah yang besar pada kita semua. 



Saat Malaikat Tertawa, Saat Malaikat Menangis


Assalamu’alaikum pembaca muslimcirebon.com. Semoga ketika membaca postingan ini kita semua dalam kondisi sehat ruhani dan jasmani. Jika dalam kondisi yang kurang baik, semoga Allah mengabulkan doa, dan kembali menjadikan kita sehat ruhani dan jasmani. 

Langsung pada inti posingan ini, kami ucapkan selamat membaca. Semoga bermanfaat



Malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjalankan tugas dengan baik, sebagaiaman dalam ayat:

“…tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Mereka ini senior bagi manusia yang bertugas dengan tingkat kegalan yang nyaris tidak ada, kecuali kisah Harut–Marut. Di antara 10 malaikat yang wajib diketahui oleh umat Islam adalah Malaikat Izrail. Dia adalah malaikat dengan tugas mengambil paksa nyawa; tidak diundur-undur dan tidak dimaju-majukan. Semuaanya sesuai dengan masa dan tempat tertentu, dan hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa kita semua kembali.

Tentang Malaikat Izrail dalam kitab Hikaya Shufiyah diceritakan, suatu kali Malaikat Izrail ‘alaihissalam ditanya:

“Apakau engkau juga pernah tertawa?”

“Ya, aku pernah tertawa sekali, dan menangis sekali. Pertama, aku tertawa kepada laki-laki yang telah melakukan tawar-menawar harga sepatu yang tidak akan rusak sampai masa lima tahun, sementara aku mengambl nyawanya saat dia sedang melakukan transaksi. Hehehe,” tawa Malaikat.

Kedua, aku bersedih ketika saat itu ada perempuan yang memiliki dua anak yatim yang masih imut-imutnya. Perempuan itu menyeberangkan sungai anaknya satu-satu. Anak pertama sudah perempuan itu turunkan di tepi sungai, sementara saat hendak mengambil yang anak keduannya, kuasa Allah, tiba-tiba air menyeret menenggelamkan ibu dua anak yatim tersebut dan meninggal. Kejadian tersebut membuatku terharu, karena ada dua anak kecil yatim dan terpisahkan oleh keadaan, sementara ibunya telah meninggalkan mereka.

Hingga akhirnya, Allah SWT menampakkan kepada suatu masa depan bagi mereka berdua, bahwa anak pertama akan menjadi Raja Penjuru Timur, dan satunya akan jadi Raja penjuru Barat. Dan Allah, Maha Suci, Dialah Dzat pengelola segala sesuatu, tiada Tuhan selain-Nya.”

Hikayat ini menyiratkan pesan, antara lain, tentang terbatasnya waktu manusia dalam menikmati harta dunia. Manusia mungkin punya keinginan dan angan-angan panjang tentang masa depan kenikmatan. Tapi mesti dicatat bahwa Allah punya takdir sendiri terkait batas umur manusia di alam fana ini.

Kematian bisa terjadi kapan saja, baik pada momen suka maupun duka. Pada saat-saat “wajar” ataupun tak terduga dan tidak diharapkan sama sekali. Takdir ini pun tak bisa segera dihakimi mutlak sebagai keburukan. Karena di belakangnya ada takdir lain yang tidak diketahui hamba-Nya.

Sumber: nu.or.id

Selesai untuk postingan ini. Terima kasih sudah membacanya. Semoga Allah SWT memberikan anugerah yang besar pada kita semua. 


Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq


Assalamu’alaikum pembaca muslimcirebon.com. Semoga ketika membaca postingan ini kita semua dalam kondisi sehat ruhani dan jasmani. Jika dalam kondisi yang kurang baik, semoga Allah mengabulkan doa, dan kembali menjadikan kita sehat ruhani dan jasmani. 

Langsung pada inti posingan ini, kami ucapkan selamat membaca. Semoga bermanfaat



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dalam sebuah khutbah mengatakan, “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis. Para sahabat yang lainnya pun heran. Hingga akhirnya diketahui bahwa hamba yang dimaksud Nabi itu tak lain adalah Abu Bakar. Mereka memeng mengakui keutamaan pribadi sahabat yang juga mertua Rasulullah itu.

Dalam kesempatan lain, Nabi menyebut orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. "Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Tapi cukuplah antara aku dengan Abu Bakar ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam," kata Rasulullah.

Sayyidina Abu Bakar termasuk kelompok orang yang paling awal masuk Islam (as-sâbiqûnal awwalûn). Selain loyalitasnya yang sangat tinggi terhadap Rasulullah, ia juga dikenal sebagai sosok yang amat zuhud dan punya keistimewaan lebih dari para sahabat lain. Reputasi di mata Nabi dan sahabat-sahabat inilah yang membuatnya dipercaya mengemban amanat sebagai khalifah pertama selepas Rasulullah wafat.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan Sayyidina Abu Bakar, baik melalui keteladanannya atau petuah-petuah yang disampaikannya. Salah satu yang bisa ditimba adalah cerita tentang saat-saat beliau menjelang wafat.

Seperti ditulis dalam kitab Anîsul Mu'minîn karya Shafuk al-Mukhtar, suatu kali Sayyidah 'Aisyah, putri beliau yang juga istri Rasulullah, datang kepada Abu Bakar yang kala itu sedang sakit.

"Wahai Ayah, bagaimana bila aku panggilkan dokter?" tanya 'Aisyah.

"Ayah sudah ditangani dokter."

"Lalu apa kata dokter?" tanya 'Aisyah penasaran.

"Ayah boleh melakukan apa yang Ayah inginkan." Pernyataan dokter semacam ini menunjukkan bahwa sakit Abu Bakar cukup parah dan mendekati kematian.

"Dengan kain mana aku nanti mengafani jenazah Ayah?"

"Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah."

"Baju itu sudah usang. Apa tidak sebaiknya aku belikan kain kafan yang baru?" tanya 'Aisyah.

Jawab Abu Bakar, "Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati."

Dialog 'Aisyah dan Abu Bakar tersebut membuktikan kematangan psikologi mereka dalam menyikapi fenomena kematian. Kematian bukan hal yang menyeramkan. Mati pasti terjadi sebagai jembatan berjumpa seorang hamba kepada Rabb-Nya, lalu mempertanggungjawabkan apa yang manusia perbuat selama di dunia.

Pilihan Abu Bakar agar dikafani menggunakan baju lusuh yang biasa dikenakan saat shalat berjamaah dengan Nabi mengesankan setidaknya dua hal. Pertama, kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap Rasulullah. Kedua, bukti kebersahajaan Abu Bakar yang istiqamah, saat hidup hingga maut menjemput.

Yang paling menarik adalah saat ia menjawab tawaran 'Aisyah yang hendak membelikan kain kafan baru. Ia menampiknya dengan alasan bahwa barang baru hanya layak untuk orang hidup, bukan orang mati. Pernyataan yang terakhir ini sejatinya bukan sekadar penolakan, melainkan pula pesan untuk mereka yang masih hidup bahwa gemerlap duniawi tak lagi relevan ketika jasad seseorang sudah tertimbun di dalam tanah. Wallahu a'lam. (Mahbib)

Sumber: nu.or.id

Selesai untuk postingan ini. Terima kasih sudah membacanya. Semoga Allah SWT memberikan anugerah yang besar pada kita semua.