Header Ads

Makam Asy-Syaikh Salim bin Abdulloh (Penyusun Kitab Safinah) di Tanah Abang Jakarta


Sebagai besar mulimin dan muslimat yang pernah bersentuhan dengan pesantren atau majelis ilmu, pasti tahu apa isi dari Kitab Safinah. 

sumber: fiqhmenjawab.net

Muslimcirebon.com Dalam proses belajar mengajar ilmu keislaman, umumnya yang hanya kita ketahui hanyalah nama kitab, isi/kandungan kitab, dan nama penulis/penyusunnya. Jika pun ada informasi lain, adalah sanad kitab tersebut. Tidak ada informasi lengkap tentang penulisnya, termasuk dimanakah makam dari ulama/penulis kitab tersebut.

Ini yang terjadi pada perjalanan Kitab Safinah di tanah air. Pengaruh beliau yang sangat besar, tidak membuat profil dan makam belaiu banyak diketahui para penuntut ilmu keislaman.

Profil Penulis Kitab Safinah   

Nama lengkap beliau, Al-Allamah Asy-Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Abdulloh bin Sumair Al-Hadhromi Asy-Syafi’i, dikenal sebagai seorang ulama  ahli Fiqih, pengajar , hakim agama, ahli politik dan juga ahli dalam urusan kemiliteran . Beliau dilahirkan di desa “Dzi Ashbuh” salah satu desa di kawasan Hadhromaut, Yaman.

Syekh Salim memulai pendidikannya dalam bidang agama dengan belajar Al-Qur’an di bawah pengawasan ayahandanya yang juga merupakan ulama besar, yaitu Syekh Al-Allamah Abdullah bin Sa’ad bin Sumair, hingga beliau mampu membaca Al-Qur’an dengan benar.

Selain pada ayahnya, beliau juga belajar keilmuan Islam lainnya pada ulama-ulama Hadhromaut (abad 13 H).

Setelah belajar kepada beberapa ulama dan telah menguasai berbagai ilmu agama beliau mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmunya, mulailah berdatangan para pernuntut ilmu untuk menimba ilmu pada beliau, di antara murid beliau yang masyhur adalah Al-Habib Abdulloh bin Thoha Al-Hadar Al-Haddad dan Syekh Al-Faqih Ali bin Umar Baghuzah.

Pada satu masa, beliau diangkat menjadi penasehat khusus Sultan Abdullah bin Muhsin. Sultan tersebut pada awalnya sangat patuh dan tunduk dengan segala saran, arahan dan nasehat beliau. Namun lama kelamaan sang sultan tidak lagi mau menuruti saran dan nasehat beliau dan bahkan meremehkan saran-saran beliau. Akhirnya beliau memutuskan untuk hijrah menuju India, lalu beliau hijrah ke negara pulau jawa.

Setelah menetap di Jawa (tepatnya di Jakarta), sebagai seorang ulama terpandang yang segala tindakannya menjadi perhatian para pengikutnya, maka perpindahan Syekh Salim ke pulau Jawa tersebar secara luas dengan cepat, mereka datang berduyun-duyun kepada Syekh Salim untuk menimba ilmu atau meminta doa darinya.

Melihat hal itu maka Syekh Salim mendirikan berbagai majlis ilmu dan majlis dakwah, hampir dalam setiap hari beliau menghadiri majlis-majlis tersebut, sehingga akhirnya semakin menguatkan posisi beliau di Jakarta, pada masa itu.

Syekh Salim bin Sumair dikenal sangat tegas di dalam mempertahankan kebenaran, apa pun resiko yang harus dihadapinya. Beliau juga tidak menyukai jika para ulama mendekat, bergaul, apalagi menjadi budak para pejabat. Seringkali beliau memberi nasihat dan kritikan tajam kepada para ulama dan para kiai yang gemar mondar-mandir kepada para pejabat pemerintah Belanda.

Walaupun Syekh Salim seorang yang sangat sibuk dalam berbagai kegiatan dan jabatan, namun beliau adalah seorang yang sangat banyak berdzikir kepada Allah SWT dan juga dikenal sebagai orang yang ahli membaca Al Quran. Syekh Ahmad Al-Hadhromi Al-Makiy menceritakan bahwa Syekh Salim mengkhatamkan bacaan Al-Quran ketika melakukan thowaf di Baitullah.

Sumber: fiqhmenjawab.net


No comments

Powered by Blogger.